Daftar
bergabung menjadi
Kafil Yatim
335
Jumlah Kafil Yatim
yang telah bergabung

Selengkapnya!
Yatim-Dhuafa Terbaru:
Nanda Nur Anisah
05 Desember 2013

Total: 200 Anak
Online : 1 | Hits Hari ini : 56 | Total Pengunjung : 12761

Sign Kafil Yatim


Username :
Password :

Rekening BANK


MANDIRI (TCY-D)
070 000 63 450 99
A.N/ Yay. Marhamah Yatama

SYARIAH MANDIRI (TCY-D)
0030 18 95 96
A.N/ Yayasan Marhamah Yatama

MUAMALAT (TCY-D)
000 1383 22 3
A.N/ Marhamah Yatama

Al-Quran dan Anak Yatim
Rabu, 18 Juli 2012 - 15:26:34 WIB Diposting oleh : Hafizs H.A | Kategori: Kajian Islam - Dibaca: 3871 kali


Gambar: .

Lainnya:

DR. K.H. Ahsin Sakho Muhammad, MA
Anak yatim adalah manusia yang masih kecil yang masih sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang, support dari orang lain. Seorang anak kecil sebagaimana biasa ingin diperhatikan dan dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Segala sesuatu keperluan hidupnya ingin secepatnya bisa dipenuhi, mulai dari kebutuhan dasar (primer) seperti makan dan minum sampai kebutuhan yang sekunder seperti main main dan lain sebagainya. Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya seringkali kita melihat anak kecil merengek, meronta bahkan menangis agar supaya keinginannya terpenuhi. Anak kecil sangat tergantung dengan ibunya dan orang orang yang disekelilingnya agar bisa mendapatkan kasih sayang mereka. Ibu dalam kosa kata bahasa arab disebut “al-Umm” yang artinya sesuatu yang dituju. Kata “al-Imam” juga mempunyai arti yang sama karena dia dijadikan tujuan oleh pengikutnya. seorang Ibu karena keibuannya dan rasa kasih sayangnya yang besar dijadikan tujuan oleh anak anaknya. Seorang anak yang baru pulang ke rumah kebiasannya akan mencari ibunya terlebih dahulu untuk mendapatkan ketenangan hati dan melaporkan segala unek-uneknya setelah dolan dengan teman temannya.

Namun keberadaan ayah juga sangat berperan, mengingat ayah adalah sebagai pemimpin, penanggung jawab dan dalam masih menjadi tulang punggung keluarga, dan mempunyai andil besar bisa menjaga rasa aman dalam keluarga. Bisa dibayangkan, jika ayah yang menjadi tumpuan hidup dalam keluarga, tiba tiba harus meninggalkan dunia, apa yang terjadi dalam lingkungan keluarga ? sang Ibu akan sangat sedih dan kehilangan, karena ayah dan Ibu adalah laksana dua sayap dan dua pendayung dalam satu keluarga yang bersama sama mengayuh bahtera rumah tangga menuju ke kehidupan sejahtera yang didambakan. Sang Ibu harus menambah perannya, di samping sebagai Ibu juga harus berperan sebagai ayah untuk mencari nafkah sebagai sumber kehidupan keluarga. Bisa dibayangkan betapa repot dan susahnya seorang Ibu yang mempunyai peran ganda yang demikian. Anak anak yang ditinggalkan juga merasa terpukul. Ayah yang dijadikan panutan oleh anak anaknya dalam keseharian, tidak lagi mereka dapatkan. Perasaan mereka menjadi kosong dan hampa. Ayah yang berada di garda terdepan rumah tangga, tidak lagi berada bersama sama mereka. Jika hal ini terjadi pada orang lain, hal ini juga bisa terjadi pada anak anak kita sendiri. keadaan yang demikian ini menyebabkan anak yatim perlu mendapatkan perhatian dari semua kalangan agar mereka bisa melangsungkan kehidupannya dengan baik, sebagaimana anak-anak lainnya. Kesayangan dan belaian ayah yang hilang perlu digantikan oleh belaian tangan dan kasih sayang keluarga, masyarakat sekeliling dan bahkan juga negara. Al-Qur’an sebagai kitab hidayah telah memberikan perhatian yang penuh terhadap seluruh umat manusia. Al-Qur’an juga selalu membla mereka yang lemah dan tertindas seperti perempuan dan anak anak yatim.

Dalam al-Qur’an terdapat sekitar 7 tempat yang menggunakan kosa kata “yatim” dalam bentuk mufrad dan 10 tempat yang menggunakan kata “yatama” dalam bentuk jamak. sedangkan dalam bentuk isim tyatsniah (orang dua tunggal) hanya terdapat dalam 1 tempat. Berikut ini obyek pembicaraan tentang anak yatim dalam al-Qur’an:

  1. Allah menghimbau agar kaum muslimin secara bersamaan memerhatikan anak yatim. Memperhatikan anak yatim adalah bukan syari’at islam saja, karena kaum Bani Isra’il juga telah diperintahkan untuk memerhatikan anak yatim. (al-Baqarah : 83. 220). Dalam kisah Nabi Musa bersama Nabi Khidir dijelaskan bahwa keduanya memperbaiki satu tembok rumah yang sudah miring demi menjaga harta kedua anak yatim yang ada dibawahnya (al-Kahf: 82) Ada 10 wasiat Allah kepada kaum muslimin agar menjadi pegangan hidup mereka. Kesepuluh wasiat itu adalah : 1.larangan menyekutukan Allah, 2.perintah berbuat baik kepada kedua orang tua. 3.larangan membunuh anak karena kemiskinan.4. larangan melakukan perbuatan yang keji baik yang nampak ataupun tidak. 5. larangan membunuh jiwa tanpa hak. 6. larangan memakan harta anak yatim. 7. perintah memenuhi timbangan dengan benar. 8. Perintah berbuat adil walau kepada kerabat. 9.perintah memenuhi janji. 10.larangan mengikuti jalan jalan yang sesat. (an-An’am: 151-153)
  2. Allah melarang keras menghardik anak yatim (adl-Dluha:9) perbuatan tersebut termasuk perbuatannnya orang yang menduskatan agama dan hari akhir (al-Ma’un:2). Allah menghardik orang kafir yang tidak mau memuliakan anak yatim, dan tidak mau menghimbau orang lain untuk memberi makan orang miskin (al-Fajr: 17)
  3. Allah melarang memakan harta anak yatim secara zalim. Hal itu termasuk dosa yang besar. Allah mengancam mereka dengan api neraka ( an-Nisa’:2, 10).
  4. Allah memerintahkan kepada pengasuh anak yatim untuk menguji kepintaran mereka dalam mengelola harta mereka sendiri. Jika sudah pintar barulah harta tersebut diserahkan kepada mereka dengan dipersaksikan. Allah membolehkan bagi pengasuh anak yatim untuk memakan harta anak yatim tersebut jika memang benar benar miskin, tapi dengan takaran yang secukupnya saja. Sedangkan bagi mereka yang sudah cukup akan lebih baik mengekang diri dan tidak ikut memakan harta anak yatim (an-Nisa’:6).
  5. Allah menjelaskan bahwa salah satu sifat orang yang baik adalah : 1.Iman kepada Allah, hari akhir, Malaikat, para Nabi. 2.Memberikan infak harta kepada sanak kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir (ibn sabil), orang yang minta minta, dan memerdekakan hamba sahaya. 3.melaksanakan salat dan menunaikan zakat. 4.mempunyai integritas pribadi sebagi orang yang selalu memenuhi janji dan bersabar dalam segala suasana. ( al-Baqarah:220)
  6. Salah satu sifat orang yang akan masuk sorga adalah memberi makan dengan ikhlas kepada fakir miskin, anak yatim, tawanan perang. ( al-Insan:8). Jalan hidup yang sukar yang ditempuah oleh mereka yang beriman adalah memerdekakan hamba sahaya, memberi makan kepada anak yatim, fakir miskin, pada saat kekurangan (al-Balad:11-16)
  7. Selanjutnya Al-Qur’an menghimbau kepada kaum muslimin agar infak kepada anak yatim bisa diambilkan dari harta pampasan perang (Ghanimah) (al-Anfal:41) atau dari harta Fai’ yaitu harta yang diambil dari orang kafir harbi tanpa perang (al-Hasyr :7) atau dari hasil pembagian harta warisan (an-Nisa’:8).

Dari pemaparan diatas, nyatalah bahwa Allah sangat menaruh perhatian kepada anak yatim melalui berbagai macam cara yaitu memerhatikan mereka, menjaga harta mereka sampai mereka dewasa dan pintar mengelola uang, tidak boleh memakan harta mereka secara zalim. Allah melarang seseorang menghardik anak yatim, karena hal itu melukai hati mereka, sementara mereka tidak ada yang bisa menerima keluh kesah mereka.

Semua tanggung jawab tersebut dipikulkan pertama kepada keluarga bapak, keluarga ibu, seperti paman pamannya, lalu kerabat yang diluar itu. Setelah itu menjadi kewajiban masyarakat muslim untuk memerhatikan mereka dengan segala macam cara yang baik. Jika semua upaya tersebut dilakukan, maka kiranya tidak ada satu anak yatimpun terlantar. Namun sebaliknya jika masih banyak anak yatim yang terlantar, maka semua himbauan dari Allah melalui ayat ayat diatas belum banyak berarti dalam menumbuh kembangkan kesadaran dan kepedulian kepada anak yatim.